Ah sudalah…

September 29th, 2006

Sinusitis memang bukan penyakit yang parah

Tapi cukup membuatku menjadi payah

Kebiasan baru malas kuliah

Akhirnya membuatku kehilangan arah

Apakah aku yang salah…?

Tolonglah…

Skeptis mencoba menulis

September 16th, 2006

BUBARKAN OKFT-UH

Terima kasih telah meyempatkan diri menarikan mata Anda pada tulisan yang tak berharga ini. “Mungkin..” saya tak mampu bersilat huruf dan kata-kata yang tak biasa, “mungkin” saya orang yang tak pandai menulis, “mungkin” tulisan ini tak pantas untuk dibaca, ataukah “mungkin” saya adalah penakut yang tak mau berdebat whateverlah… I just wanna lay up my opinion in here…

Bubarkan OKFT-UH”, sejenak aku tersentak membaca kalimat itu, kutelusuri kata demi kata mengobati rasa penasaran yang tengah menggerogoti. *sling…* imajinasiku melayang…, kuanalogikan lembaga sebagai kekasih yang kadang-kadang kucuekin namun dia tetap setia padaku dan kemudian… ia menghilang atau lebih parah lagi meninggal… Sedih…, kehilangan…, mungkin saja itu yang kurasakan saat dia tak disampingku lagi… (sometime sesuatu akan terasa berharga saat kita kehilangannya, isn`t it???)

Mungkinkah kehilangan lembaga akan seperti itu??? Kita baru tau bahwa dia begitu berharga setelah lembaga di bubarkan??? After that, kita akhirnya kembali memupuk niat dan semangat hingga KOFTE tidak hanya menjadi suatu kalimat yang hampa… Ah… entahlah… pertanyaan ini hanya tersimpan, sampai OKFT benar-banar dibubarkan. Andai saja waktu bisa terulang kembali atau beri kesempatan sekali lagi (lagu apa bede…?)

Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasakan sekarang tak seperti dulu lagi… (senior kadang-kadang berbicara seperti ini). Tapi apakah perbedaan itu terjadi karena orang yang berbeda atau zaman yang memang dinamis hingga sistempun harus bergeser?

Mengapa seniorku jauh lebih hebat? Mengapa mereka dapat berpikir sekaligus dapat bekerja? Mengapa nama mereka menggaung begitu besar? Tapi kami (baca : junior) hanya mampu terpukau tanpa bisa memukau, hanya mampu mangamat tanpa bisa berbuat, hanya mampu manatap namun enggan melangkah dengan mantap dan akhirnya terpenjara dalam sejarah…

Guru yang hebat adalah guru yang bisa menghasilkan murid yang lebih hebat, kalimat ini tentu tak asing lagi. *buzz…* kemudian aku tersadar (mungkin) seniorku tak sehebat yang kupikirkan. Buktinya, mereka tak mampu menghasilkan murid-murid yang lebih hebat daripada dirinya… mungkinkah (maaf) seniorku terlalu egois? Atau (maaf) juniornya terlalu ongol…?

Dalam ilmu pocong, seseorang yang punya ilmu tak boleh mati apabila ia belum mawariskan keahliannya tetapi apakah metode seperti itu juga berlaku di lembaga ini? –tanya ma`…-

Semuanya hanya menjadi pertanyaanku…! Thx buat –ababil- atas tulisannya dan 9 kata “mungkin” yang menjadi inspirasiku…