Perbaiki Niatmu Sayannnggg

March 26th, 2007

Tanya kenapa, polisi akhir2 ini tdk bisa mengontrol emosi? Bunuh komandan, bunuh mertua, bunuh anak, bunuh diri….

Tanya kenapa, Anggota dpr terlalu banyak tuntutan. Minta gaji naik, minta tunjangan naik, minta laptop gratis….

Tanya kenapa, KMT yang harus "bermohon-mohon" untuk dapat ketua lembaga….?????

Satu ji mo ku bilang, Perbaiki Niatmu Sayaaannngggg…..!

Katarsis (#1)

March 24th, 2007

Nyam nyam nyam….
Di kala makanan itu terkunyah, nyam nyam nyam, tak ad satu pun gundah melintas…
Nyam nyam nyam… makanan itu hancur dan akhirnya habis…
Merangkul satu demi satu temannya untuk masuk di kerongkonganku…
Nyam nyam nyam….

Sruuuupppp….
Serupan air terdengar jelas, membahana, menguasai dunia…
Tak perlu lagi ada keresahan…
Apalagi ketika aroma kopi merasuki tubuh…
Semua hilang seketika……

Dengan makan aku mencoba katarsis…
Dengan minum aku mencoba katarsis…
Namun… sekali lagi semua semu…
Gundah itu tak habis di kunyah…
Gelisah itu tak habis di reguk…

ShoutBox

March 21st, 2007

HOREEE…

Ada mi shoutboxnya blog friendsterku…

*Norak deh…

Lewat jam 12 malam…

March 8th, 2007

Lewat jam 12 malam. Motor melaju kencang, melalui jalan yang mulai lengang. Lampu merah dan hijau tampak lelah berperang, berganti lampu kuning yang terus menerawang. Jarak yang membentang antara kampus dan rumah, tak menjadi penghalang. Menikmati semilir angin pantai serta cahaya bintang bisa membuatku sedikit tenang…

Lewat jam 12 malam, sendiri manarikan jemari di atas tuts komputer. Bersua dengan manusia di dunia maya dengan berbagai karakter.

Lewat jam 12 malam. Terduduk menyeruput kopi. Tak ada lagi koar yang berapi-api. Semua tlah sepi. Hanya tinggal mimpi yang menepi.

Lewat jam 12 malam. Membayangkan engkau menatap. Lalu mendekap. Kemudian mengelusku hingga terlelap. Tetapi bayanganmu menghilang dalam sekejap di telan malam yang semakin gelap.

Lewat jam 12 malam. Coba membekam masa kelam yang masih saja terpendam. Ku tutup mata, menunggu cahaya sang surya kembali menyiram dan berharap tak ada lagi hitam esok hari hingga lewat jam 12 malam.

Lewat jam 12 malam, apa yang kau lakukan???

Satu Dekade

March 6th, 2007

11 Maret 1997

“Sepuluh tahun yang lalu lahirlah seorang bayi
perempuan yaitu saya. Ulang tahun kesepuluh ini ku rayakan dengan cukup meriah
dengan biaya sendiri loh. Banyak juga hadiahnya sih, tapi lumayanlah karna saya
selalu merahasiakannnya. Bukuku banyak sekali karena banyak yang memberiku buku
tulis. Dan yang paling menghebokan hadiah dari ettaku, dia memberiku sesuatu
yang aku impikan dari dulu yaitu sebuah jam tangan. Betapa indahnya jam tangan
itu.

Aku sih ingin mengundang si Fuad tapi… ya malu ah,
masa sih diundang hanya dia yang lelaki, dianyakan malu…

Aduh saya senang banget hari ini daripada
segala-galanya. Bagi teman-temanku, etta, ibu, tante tati, ummu, wawan dan
meme, saya ucapkan terima kasih.”

Aku tersenyum
sendiri. Sepuluh tahun lalu aku menuliskan ini di sebuah buku harian yang juga
merupakan salah satu hadiah yang kuterima saat itu. Aku coba menampilkan tanpa
proses editing. Polos. Apa adanya.

Hadiah yang
menjadi orientasi mutlak, jelas terlihat. Betapa senangnya mendapatkan sebuah jam
tangan kala itu. Fuad, secret admirer
ku, tak luput tertuliskan. Ha ha ha. Lucu juga.

Kurang lebih
87640 jam, memang bukan waktu yang singkat. Mungkin aku telah bermetamorfosis
(kupu-kupu kale…), fisik, alur pikiran, perasaan…

Tak giat lagi
menyisihkan uang jajan demi merayakan milad sederhana dengan bugdet yang sudah
diperhitungkan jauh-jauh sebelumnya… karena tak lagi menganggap itu hal yang
mutlak, hal yang wajib, toh… tanpa satu perayaan pun aku tetap berganti usia

Tak lagi berharap
mendapatkan hadiah fisik yang melimpah ruah, jam tangan, buku tulis, pulpen
beraneka warna, tidak. Hanya doa yang kuharapkan kini. Doa yang meng-amin-i
segala keinginan, harapan, asa, obsesiku.

Tak lagi memiliki
secret admirer. Cinta tlah hilang. Kasih telah raib. Mati rasa.

Batu besar yang
dari dulu kutakutkan ‘kan menghantamku malah jauh lebih “tidak apa-apa” di
bandingkan kerikil-kerikil kecil yang di tebarkan sang bayu yang terus tertiup.
Pedih. Perih. Sakit. Mungkin hanya jarum jam yang bisa menceritakan semuanya,
bagaimana ribuan kerikil kecil menggugah idealisme ku dalam satu dekade ini.