Politik Praktis di Kampus

May 29th, 2007

Kampanye calon Gubernur dan wakil calon Gubernur Sulawesi Selatan makin memanas. Dimana-mana ada fotonya, ada balighonya, ada spanduknya. Wuih… saingan dengan iklan komersil. Belum lagi yang pake akronim "asmara" dan "sayang", lagi jatuh cinta kale… Ada juga yang kayak sundal bolong, don’t look back, huahaha… Ada malah yang mau saingan dengan AFI dan Indonesian Idol dengan membuat fans club… Norak…

Kampuspun tak elak di jadikan arena adu kegigihan para kandidat. Misalnya calon A berkampanye pada temu alumni Unhas, calon B berkampanye di kampus UMI, bahkan dari berita yang di tulis Ince di panyingkul.com, kampanye sudah masuk di SMU. Ck ck ck

Kampus tetaplah kampus. kampus seharusnya berada di posisi netral dan secara objektif mengamati dan memberi alternatif solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat pada semua aspek kehidupan. Jika kampus ditarik masuk area politik praktis secara institusi maka kampus telah meruntuhkan semangat netralitas dan objektivitas dunia kampus dan akademik dengan demikian dunia demokratis di daerah ini akan berlangsung kurang baik.

Terlepas dari ajang Pilkada yang masuk di kampus, jauh sebelum itu saya memang sudah resah dengan politik praktis di kampus. Pada ajang pemilu ketua lembaga misalnya, politik praktis banyak dilakukan oleh para kandidat. Mereka menggunakan strategi ini itu untuk sekedar untuk mendapatkan kekuasaan. Nah, sekarang apa yang membedakan lembaga kemahasiswaan dengan partai politik yang ada di luar sana???

Apakah Aku Mahasiswa?

May 27th, 2007

Mahasiswa        Terkadang hati naruniku bertanya, apakah aku seorang M-A-H-A-S-I-S-W-A?

Aku memang lulusan SMA yang ikut ujian SPMB dan kemudian lulus di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin dan kuliah di Jurusan Arsitektur Program Studi Pengembangan Wilayah dan Kota. Aku terdaftar dengan stambuk d52104032. Aku bisa menunjukkan kartu mahasiswa yang di tanda tangani Rektor sebagai bukti. Lima semester aku telah jalani dan telah mengantongi 100 sks. Sebentar lagi perjalananku di semester enam akan berakhir. Tapi sekali lagi, apakah aku seorang mahasiswa?

Kemana aku saat para elit mempolitisi rakyat? Kemana aku saat rakyat lain berteriak LAPAR, HAK KAMI TERAMPAS? Kemana aku saat globalisme menghempas kearifan lokal, kemewahan yang di miliki negeriku? Kemana aku ketika nihilisme merajai pendidikan yang kujalani? Kemana aku ketika hedonisme menjadi Tuhan teman-temanku? Kemana aku ketika seabrek anomali tertempel di jidat pada semua aspek kehidupan? Kemana? Kemana? Hah KEMANA? Apa yang kuperbuat? Menonton? Mengamati? Atau aku bagian dari mereka?

Kerap kali, seniorku bercerita bagaimana mahasiswa di tahun 1998, aku pun banyak membaca tentang itu. Bagaimana reformasi digelorakan oleh elemen mahasiswa se Indonesia, hentakannya begitu dahsyat hingga mampu melumpuhkan kekuasaan dan otoritarianeisme orde baru di kala itu. Dengan kekuatan moral dan intelektual mereka menumbangkan rezim ORBA yang lalim, korup dan otoriter. Dan kau tahu, mereka M-A-H-A-S-I-S-W-A, kaum intelektual yang sarat dengan nilai dan moralitas, aktivitas ilmiah, agen of social control and agen of changes.

Sedangkan aku…, yang katanya mahasiswa hanya menjadikan intelektual sebagai simbol yang minus implementasi, bahkan terkesan tidak memiliki kapasitas intelektual. Aku terlalu prematur untuk mengklaim diriku sebagai kaum intelektual sedangkan aku hanya terkungkung di balik tembok kampus dan memakan mentah-mentah ilmu yang diberikan oleh dosen. Aku malas mengikuti bedah buku, diskusi ilmiah dan pengkajian ilmu lainnya. Ketakutan lebih mendominasi daripada keberanianku untuk melakukan interupsi intelektual.

Ideologi gerakan mahasiswa tidak berhembus di napasku dan tak mengalir di darahku, aku memang aktif di lembaga kemahasiswaan namun aku tak memiliki pondasi dan tak paham betul tatanan nilai. Lembaga kemahasiswaanku hanya disibukkan dengan konsumsi internal dan “takut” mengambil peran strategis pada ranah eksternal.

Aku meng-amin-i kampus sebagai wujud “Mall baru” bahkan aku terjangkit virus matrealisme, hedonisme dan kapitalisme. Secara kompetitif aku dan lainnya bagai imitasi selebritis.

Aku tutup mata, tutup telinga, tutup mulut bahkan menutup hati pada gejolak sosial yang bersentuhan langsung untuk hajat hidup orang banyak. Aku santai saja menunggu detik-detik kenaikan uang kuliah, detik-detik swasta menguasai pendidikan. Hanya individualisme yang mengiringi perjalanku, bahkan dalam doa, aku hanya memohon semoga aku mendapat nilai bagus dari dosen, semoga aku mendapat rejeki yang banyak untuk membeli baju baru, celana baru, motor baru, bertamasya ke mall, jajan di pizza hut, KFC, McD, dsb. Tak ada doa dan uluran bantuan untuk kaum tertindas, tak ada doa dan uluran bantuan untuk mereka yang terkena musibah, tak ada doa dan uluran pemikiran untuk revolusi negeri ini!

Apakah aku sadar dalam kesadaranku? Apakah aku tidak sadar dalam kesadaranku? Apakah aku sadar dalam ketidaksadaranku? Ataukah aku tidak sadar dalam ketidaksadaran? Jiwaku menangis lirih namun air mataku telah mengering untuk menggaris pipi.

Masihkah aku bangga menyandang nama M-A-H-A-S-I-S-W-A saat ini??????

Revolusi

May 24th, 2007

Revolusi…

Kata itu memang akhir-akhir ini kerap menggoda dan melingkar di kepalaku, mengalir bersama aliran darahku dan berhembus bersama napasku… Halllah…

Dan tadi… ketika melakukan editing foto, tiba-tiba saja jariku dengan lancar mengetikkan "REVOLUSI" untuk judul foto itu…

Ujian Akhir Semester

May 23rd, 2007

Satu semester kini telah aku lewati dengan pasang surut semangat.
Kadang aku begitu malaznya dan tiba-tiba terlampau rajinnya. Semester
ini…, menyimpan banyak kisah, janji yang terpatri di awal semester
kini hanya tinggal isapan jempol semata, toh… satu semester aku
lewati tanpa ada perubahan yang berarti bahkan cenderung menurun
(menurut teman kelasku). Kehadiranku di kelas kuliah turun drastis di
semester ini. Mungkin aku kecewa, kecewa dengan cara mengajar sang
dosen, kecewa dengan sikap teman-temanku, kecewa dengan birokrat dan
kecewa dengan keadaanku.

     Ingatanku pun mundur beberapa
waktu. Saat status sebagai "mahasiswa baru" masih tertempel di jidatku,
aku begitu rajinnya. saat ujian telah tiba, aku begitu siapnya. aku tak
butuh bantuan dari siapapun, aku tak perlu membuat sebuah pelampung,
aku yakin dengan pekerjaanku, aku menulis dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari lembar soal dengan lancarnya. Di akhir
semester, wajahku begitu sumringah menatap nilai A berderet dan 2 nilai
B menyisip di daftar nilaiku.

    Waktu terus bergulir, kini aku
akan mengakhiri tahun ketiga di universitas ini berarti telah 6
semester aku jajaki di program studi ini. Aku tidak serajin Inar sang
mahasiswa baru lagi. Kehadiranku mengikuti kuliah sesuka hati,
keinginan mengerjakan tugas semaunya.

    Kemarin, aku bangun
pukul 9.30 karena semalaman begadang mengerjakan tugas dan ketiduran
sekitar pukul 6 pagi. Sedangkan aku seharusnya duduk di bangku kampus
menjawab soal final mata kuliah "Perencanaan Desa Terpadu"  yang
dimulai sejak pukul 8.30. Aku tidak mengikuti final. Dan tak ada
perasaan bersalah oleh karenanya…

    Di kelas tadi, aku
kembali mengikuti final. Aku tak belajar dan aku tak pernah mengikuti
kuliah. Namun aku bersyukur sekaligus keheranan. Mereka yang notabene
parafnya penuh mengisi halaman absensi kasak kusuk mencari jawaban dari
satu orang ke orang lainnya. Dan aku…, yg jarang mengikuti kuliah 1
semester ini, bisa duduk tenang menjawab soal-soal demi soal. Jika aku
tidak tahu, yah memang aku tak tahu. itu prinsipku!

   
Kekecewaanku kini semakin jelas. Kampus, sebuah wahana bagi kaum
intelektual rupanya lebih berorientasi hasil. Mereka tak peduli
bagaimana proses yang harus mereka jalani, yang ada di kepala mereka
hanya nilai "A" yang wah. dahsat. cerdas. pintar. pfffu… Sedangkan
mereka sebenarnya KOSONK!
Teman Mahasiswa, sebenarnya apa yang kau cari? Ilmukah? Nilaikah? Atau modal untuk menghancurkan negeri kita?

Screening

May 22nd, 2007

Hampir dua minggu, kamarin, aku menjadi tim screening dengan beberapa tim screening.
Tahun lalu aku yang duduk disana, di tempat duduk yang terpasang lilin remang-remang. Kadang aku kebingungan sendiri, kadang aku merasa sangat bodoh, kadang aku tertawa sendiri, kadang aku sangat bahagia, dan perasaan lain. Berjuuta rasa berkecamuk menjadi satu di kala itu.
Dan akhirnya aku menjadi calon dengan berbagai masalah dan konflik yang mewarnai. Sempat aku publiskan masa itu disini dan ucapan terima kasih tak hentinya ingin kuucapkan kepada mereka yang kerap memberiku semangat di kala itu.

Screening kini telah berakhir, dan aku seakan kehilangan sesuatu. Aku menyukai kehidupan malam di kala screening, aku menyukai diskusi saat screening, mencari esensi, mencari subtansi. aku menyukai tawa lepasku di kala itu, tanpa beban, tanpa ketakutan, tanpa kecemasan, tanpa gundah gulana. aku seakan menjadi Inar seutuhnya.
Kapankah keadaan itu kembali? I miss……

Sms Bu De

May 7th, 2007

Ass. Mgkn ini sngat sdikit dr apa yg sudah Qt brikan, tp dgn tulus hati sy ingin sampai kan makasih atas bantuanx slama ini pd DMMA FT-UH per.2006/2007……

Sender:

Wiwin A03 +6281355238383

Masa kepengurusan periode 2006-2007 akhirnya berakhir sesaat setlah di syahkannya surat Ketetapan no 02/Tap/MMA XIV/X/2007 di hadapan Muktamirin.

Who`s next?