(Jangan) Biarkan Aku Sendiri

August 6th, 2007

Kemarin, aku ke kampus. Beberapa orang menegurku dan menanyakan mengapa aku
tak pernah menampakkan diri di kampus. Apakah betul, mereka menyadari
ketiadaanku?

Aku adalah individu impersonal yang hidup dalam massa kolektif. Hal ini
harus kuakui. Aku hidup seperti manusia yang terisolasi, terpisah dan terasing
dari orang lain. Kemalangan ini kusadari. Aku yakin, beberapa orang dalam
komunitasku, menganggap aku tak sungguh-sungguh hidup, aku tak betul-betul ada.
Aku Invisible. Tak ada satu pun yang mampu kuberikan kepada sebuah komunitas.

Eksistensi manusia memang tak mungkin pernah lepas dari kebersamaan. Eksistensi
manusia adalah sebuah kerelaan untuk menyatu dengan orang lain. Manusia tak
dapat di lihat dari kesendirian, melainkan justru karena keberadaannya berakar
pada kebersamaannya. Sekali lagi, aku menyadari ini. Tapi salahkah aku untuk
memilih menjalankan ini sendiri???

Aku tertawa sendiri. Aku tersenyum sendiri. Aku berbicara sendiri. Aku
menangis sendiri. Aku termenung sendiri. Gila. Sendiri.

Egois??? Individual??? Mungkin orang lain akan mengambil kesimpulan seperti
itu. Tapi bukan konteks itu yang membuatku melalui jalan ini, justru karena
rasa rendah diri seorang manusia biasa yang membuatku menjalaninya.

Apa yang orang lain ketahui tentang diriku? Apa yang orang lain rasakan
tentang proses hidupku hingga menjadi seperti ini? Tidak ada yang tau. Tak ada
yang mengerti. Konflik-konflik yang menjadi dinamika kehidupanku bukan bermuara
pada usaha hidup bersama tetapi hidup sendiri.

Betul, jika aku yang sengaja menyisakan tanda tanya besar tentang diriku
pada mereka, tapi haruskah mereka tahu?

Tubuhku bertindak seolah menjadi jembatan yang menghubungkan dunia
individualku yang bersifat batin dengan orang lain. Komunikasi yang aku bangun
mungkin tak selamanya melalui verbal, kata-kata yang di keluarkan lewat mulut
tetapi melalui alat yang diciptakan oleh kemampuan tubuhku bahkan anggukan dan
gelenganku adalah suatu bentuk alat komunikasi yang merupakan perpanjangan
tubuhku sendiri.

Jika aku tak mampu bersilat kata di hadapanmu, izinkan aku bergulat dengan
huruf dalam tulisanku. Jika kau tak mampu mengartikan kebungkamanku, cobalah
mencerna setiap bait kisahku…

(Jangan) Biarkan Aku Sendiri………….




2 Responses to “(Jangan) Biarkan Aku Sendiri”

  1.   dUa RiBu dUa on August 11, 2007 9:56 am

    kata dalam kurung untuk kasus seperti di atas adalah suatu yang tidak semestinya, namun banyak penulis memakainya untuk menyajikan sebuah paradoks yang ironi. seperti halnya tanda tanya dalam kurung pada pertanyaan retorik sehingga mengundang pembaca untuk menemukan kebenaran dibaliknya.

    kemampuanmu untuk menyingkap tabir bukan alasan agar kau menolak realitas yang menjadi tabir tersebut.

    kemampuan orang lain untuk mengertimu yang lebih rendah dari kemampuanmu untuk mengungkapkan bukan alasan untuk diam.

    sebagaimana sang khalik tidak menolak realitas dengan menyediakan pengampunan sebesar-besarnya bagi tiap mata yang tertutupi tabir.
    dan tetap sayang padamu meski kamu tidak bisa menegertinya.

    maaf, dalam hal bergulat huruf aku cuma bisa sampai disini melayanimu. tentulah bukan apa-apa dibanding pegulat huruf sepertimu.

  2.   ANTO on August 13, 2007 11:08 am

    apa kamu sedang jatuh cinta?
    orang yang jatuh cinta cukup dengan kesendirian
    ga nyambung ahh..

    kamu bercerita seolah aku membaca diriku
    bla.. bla..

    menurutku(yang ku alami..), masalahnya adalah kamu menerjemahkan diri pada orang lain dengan bahasa yang mungkin membuat orang lain bekata dalam hati..”aku bicara dengan siapa?”
    tapi itumi menariknya, dominasi otak kiri penyebabnya.. artistik.. abstrak.. imajinatif.. dan lain sebagainya..

    ku rasa tulisanmumi yang bisa jadi kacamata supaya orang bisa melihat kamu dari sudut tertentu,
    tapi mereka(?) tidak harus tahu, biarkan saja jadi misteri.. dan disitu kamu akan melihat,siapa yang baik buat kamu

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind