Ada dan Tiada
Dari TIADA menjadi ADA
Dari ADA menjadi TIADA
Kembali TIADA menyadarkan hal itu pernah ADA
Untuk apa ADA lalu akhirnya TIADA?
Bukankah lebih baik TIADA daripada ADA kemudian TIADA?
Ataukah lebih baik ADA yang tak akan TIADA?
Lost Time
Yesterday,
You promise to accompanies me
Keep away my cry and loneliness
But I only can be kept quiet
Just tear which talking
Honestly, I really need you
To liquefy my frost heart
But I not yet ready
I still doubt of you
To give you something
More than just a friend
Now,
I confess after you go
I realize after you run
Pain which me feel in my heart
I losing your care
I losing your love
Where are you now?
Do you still remember your promise?
puisi | Comment (1)Gejolak yang Terukir
- Frend……
Punya Ideologi itu bagus….
Punya Ideologi itu Sangat Bagus……..
Punya Ideologi Itu begitu sangat bagus……
Tapi lebih bagus lagi klo kita tidak di dikte oleh ideologi kita sendiri…..
dan sebagai tumbalnya kita menyalahkan orang-orang yang tidak setuju dengan ideologi kita…..
mgkn….Mgkn saja smua keluh kesahmu (dlm blogmu)krn Ideologimu itu….
tiap orang punya sudut pandang berbeda….
janganki memaksakan sudut pandangta’ k orang lain….Ini dunia nyata fren……
bukan dunia IDEOLOGI….Saya Tunggu In_art yang dulu…
————————–***————————–
Apakah saya yang terasing atw saya yang mengasing kan diri??? Entahlah… Aku bosan. Aku muak dengan semua gejolak ini. Mungkin itu yang menjadi alasan ke malasanku di kampus.
Hatiku betul-betul teriris setiap melawati M’tos. Ini lah dunia nyata kawan, dunia yang di banggakan orang. Dunia yang begitu jahat, dunia yang menyedihkan. Apakah kalian merasakan ketersiksaan di kala macet terjadi disana? Tentu kalian tahu persis implikasi pembangunan mall megah itu?
Tetapi qta diam, santai, tak berkata apapun. Tak berdaya. Bukankah disini idealisme qta di uji?
Tak bermaksud menyalahkan orang lain, pun aku tak bermaksud memaksakan kehendak. Jikalau aku menuliskan semuanya disini, karena hanya disini aku mampu mengungkapkan gejolak jiwaku. Di kampus, tak ku temukan lagi ruang diskusi. Hilang. Padam. Hampa.
Ataukah memang kita siap untuk menjadi calon sarjana perusak kota ini.
Aaahh… biarlah tulisan yang tak terstuktur ini terukir di blog ini. Biarkan aku menulis untuk mengungkapkan kegelisahanku yang mungkin tak (akan) kalian rasakan.
baca juga : M’Tos, Si Centil di Kawasan Pendidikan
Pergerakan Kemahasiswaan | Comment (1)