Seragam dan Identitas Kolektif

November 21st, 2007

Siang itu, saya terduduk di Plazgoz, beberapa saat kemudian mahasiswa baru berseragam hitam putih berarak melintas di depan saya.
“Kenapa mesti pake seragam hitam putih?” Beberapa mahasiswa baru kerap mengajukan pertanyaan ini ketika berhadapan dengan sang senior. Pun saya pada saat berada di posisi mereka dulu, menanyakan hal yang serupa kepada sang senior.

Sang senior lalu menyampaikan beberapa argumen atas diberlakukannya seragam tersebut.
Pertama, agar dosen dan mahasiswa dapat mengenal para penghuni-penghuni baru kampus ini.
Kedua, agar diketahui bahwa mereka adalah mahasiswa yang kuliah di fakultas Teknik.
Ketiga, agar tak ada perbedaan antara satu mahasiswa dan mahasiswa lainnya. Tak ada jarak antara kaya dan miskin. Tak ada perpisahan antara oda (orang daerah) dan mereka yang mengaku orang kota.
Serta berbagai alasan lainnya.

Tren pakaian seragam digalakkan sekitar tahun 70-80-an, di masa orde baru. Pegawai negeri diwajibkan memakai seragam biru Kopri. Ibu-ibu Dharma Wanita memakai setelan pink-peach. Bocah yang duduk di bangku Sekolah Dasar menggenakan pakaian putih merah. Anak baru gede yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama diwajibkan memakai seragam putih biru. Para remaja di Sekolah Menengah Atas diseragamkan dengan putih abu-abu.

Seragam tersebut merupakan dampak politik orde baru  yang di lakukan sebagai pengontrolan masyarakat Indonesia oleh negara. Ketika itu, identitas individu ditiadakan dan digantikan dengan identitas kolektif.

Bentuk penyeragaman ini berimplikasi pada keterbatasan seseorang untuk berekspresi sebagai seorang individu. Segala hal telah terpaktron secara kolektif menurut kelompoknya. Individu satu dan individu lainnya tak dapat dibedakan dan wajib mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Semua harus sama, semuanya mesti seragam.

Tetapi bukankah tiap individu berbeda???

Identitas kolektif yang masih mewarnai perjalanan hidup bangsa ini membuat seorang individu terbatas mengungkapkan siapa dirinya. Mereka tak bisa menjadi dirinya apa adanya. Mereka tak bisa menyampaikan bahwa betapa uniknya mereka. Semua telah dibatasi dengan identitas kolektif yang membuat mereka terkucilkan jika berbeda.

Hal ini pulalah yang membuat mental orang Indonesia kerap mengatakan, “Itu saja”, “Saya terserah yang lain”, dan ungkapan lain yang bermaksud menyampaikan bahwa “daripada salah, lebih baik ikuti yang banyak”. Tidak ada ketetapan pendapat, minim keteguhan pendirian. Tak sedikit yang takut menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.   

Barisan hitam putih itu kini berakhir melintas di depan saya. Ini adalah fakultas teknik yang identik dengan rekayasa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari setiap individunya. Semoga seragam yang dikenakan mereka hari ini tidak menyeragamkan ide dan gagasan mereka, harapku dalam hati.
Karena perbedaan, bangsa kita menjadi kaya. Karena perbedaan, fakultas ini menjadi besar.

"Bukankah kita bisa memberi jalan, tuk satukan semua harapan?"

Sang Penghibur - Padi

November 13th, 2007

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi ku cerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

Oh..
Bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya

Ku gerakkan langkah kaki
Di mana cinta akan bertumbuh
Ku layangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus
Masih ku coba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Yang lelah jiwanya

Oh..
Bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Ku helakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…
Berlari kembali..
Melangkahkan kaki
Menuju cahaya

Bagai bintang yang bersinar
Menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar
Menghibur yang sedih hatinya

————————————————————————
Asyik mendengar dan menghayati lirik lagu padi yang terbaru ini…..

Memilih untuk Tidak Memilih

November 6th, 2007

Memilih untuk tidak memilih
Begini cara mereka menyampaikan aspirasi
Ini jalan mereka berpartisipasi

Memilih untuk tidak memilih
Ketika janji hanya sebuah penantian utopis
Bukannya mereka apatis
Tidak juga mereka pesimis
Apalagi egois
Hati mereka hanya menolak mendesis
Sesuatu yang tak lagi idealis
Karena kini semua diatur dengan dealis

Memilih untuk tidak memilih
Suatu pilihan yang patut dihargai
Seharusnya mereka juga dinilai
Betapa kuat mereka mengungguli

Memilih untuk tidak memilih
Tetap merupakan suatu pilihan
Tetapi akankah menghasilkan perubahan???

Selamat Datang

November 4th, 2007

- 1 -
Jauh hari kami menanti
Suara gegap gempita
We are the champion membahana
Mengiringi derap langkah
Harapan baru tunas bangsa

Akhirnya kalian tiba
Memberikan berjuta asa
Untuk sebuah masa
Yang kini di depan mata

 

Selamat Datang….

- 2 -
Tak usah lagi kau tutup telinga
Untuk segala ucap yang kau dengar
Resapi setiap kata demi kata
Jangan berpura-pura tuli lagi

Tak usah menunduk dan menutup mata
Jangan pungkiri apa yang kau pandang
Hayati setiap tindak
Jangan berpura-pura buta

Dengar…
Lihat…
dan Rasakan…

Selamat datang….

Inilah dunia nyata…
Sarat tantangan
Penuh dinamika

Renungkan…
Pikirkan…
Cobalah terjemahkan makna

- 3 -
Tetaplah tegak di tengah badai topan
Tetaplah teguh di tengah desakan
Jangan berhenti di tengah jalan
Mencari jejak kebenaran
Demi sebuah perubahan
Kami titipkan harapan
Untuk mu yang siap di depan….

Selamat datang…