Sang Penghibur - Padi

November 13th, 2007

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi ku cerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

Oh..
Bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya

Ku gerakkan langkah kaki
Di mana cinta akan bertumbuh
Ku layangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus
Masih ku coba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Yang lelah jiwanya

Oh..
Bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Ku helakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…
Berlari kembali..
Melangkahkan kaki
Menuju cahaya

Bagai bintang yang bersinar
Menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar
Menghibur yang sedih hatinya

————————————————————————
Asyik mendengar dan menghayati lirik lagu padi yang terbaru ini…..

Memilih untuk Tidak Memilih

November 6th, 2007

Memilih untuk tidak memilih
Begini cara mereka menyampaikan aspirasi
Ini jalan mereka berpartisipasi

Memilih untuk tidak memilih
Ketika janji hanya sebuah penantian utopis
Bukannya mereka apatis
Tidak juga mereka pesimis
Apalagi egois
Hati mereka hanya menolak mendesis
Sesuatu yang tak lagi idealis
Karena kini semua diatur dengan dealis

Memilih untuk tidak memilih
Suatu pilihan yang patut dihargai
Seharusnya mereka juga dinilai
Betapa kuat mereka mengungguli

Memilih untuk tidak memilih
Tetap merupakan suatu pilihan
Tetapi akankah menghasilkan perubahan???

Selamat Datang

November 4th, 2007

- 1 -
Jauh hari kami menanti
Suara gegap gempita
We are the champion membahana
Mengiringi derap langkah
Harapan baru tunas bangsa

Akhirnya kalian tiba
Memberikan berjuta asa
Untuk sebuah masa
Yang kini di depan mata

 

Selamat Datang….

- 2 -
Tak usah lagi kau tutup telinga
Untuk segala ucap yang kau dengar
Resapi setiap kata demi kata
Jangan berpura-pura tuli lagi

Tak usah menunduk dan menutup mata
Jangan pungkiri apa yang kau pandang
Hayati setiap tindak
Jangan berpura-pura buta

Dengar…
Lihat…
dan Rasakan…

Selamat datang….

Inilah dunia nyata…
Sarat tantangan
Penuh dinamika

Renungkan…
Pikirkan…
Cobalah terjemahkan makna

- 3 -
Tetaplah tegak di tengah badai topan
Tetaplah teguh di tengah desakan
Jangan berhenti di tengah jalan
Mencari jejak kebenaran
Demi sebuah perubahan
Kami titipkan harapan
Untuk mu yang siap di depan….

Selamat datang…

Ada dan Tiada

October 27th, 2007

Dari TIADA menjadi ADA
Dari ADA menjadi TIADA
Kembali TIADA menyadarkan hal itu pernah ADA
Untuk apa ADA lalu akhirnya TIADA?
Bukankah lebih baik TIADA daripada ADA kemudian TIADA?
Ataukah lebih baik ADA yang tak akan TIADA?

Lost Time

October 3rd, 2007

Yesterday,

You promise to accompanies me

Keep away my cry and loneliness

But I only can be kept quiet

Just tear which talking

 

Honestly, I really need you

To liquefy my frost heart

But I not yet ready

I still doubt of you

To give you something

More than just a friend

 

Now,

I confess after you go

I realize after you run

Pain which me feel in my heart

I losing your care

I losing your love

 

Where are you now?

Do you still remember your promise?

Gejolak yang Terukir

October 1st, 2007
Intel
Posted 24/07/2007 02:40
  • Frend……
    Punya Ideologi itu bagus….
    Punya Ideologi itu Sangat Bagus……..
    Punya Ideologi Itu begitu sangat bagus……
    Tapi lebih bagus lagi klo kita tidak di dikte oleh ideologi kita sendiri…..
    dan sebagai tumbalnya kita menyalahkan orang-orang yang tidak setuju dengan ideologi kita…..
    mgkn….Mgkn saja smua keluh kesahmu (dlm blogmu)krn Ideologimu itu….
    tiap orang punya sudut pandang berbeda….
    janganki memaksakan sudut pandangta’ k orang lain….

    Ini dunia nyata fren……
    bukan dunia IDEOLOGI….

    Saya Tunggu In_art yang dulu…

————————–***————————–

Apakah saya yang terasing atw saya yang mengasing kan diri??? Entahlah… Aku bosan. Aku muak dengan semua gejolak ini. Mungkin itu yang menjadi alasan ke malasanku di kampus.

Hatiku betul-betul teriris setiap melawati M’tos. Ini lah dunia nyata kawan, dunia yang di banggakan orang. Dunia yang begitu jahat, dunia yang menyedihkan. Apakah kalian merasakan ketersiksaan di kala macet terjadi disana? Tentu kalian tahu persis implikasi pembangunan mall megah itu?

Tetapi qta diam, santai, tak berkata apapun. Tak berdaya. Bukankah disini idealisme qta di uji?

Tak bermaksud menyalahkan orang lain, pun aku tak bermaksud memaksakan kehendak. Jikalau aku menuliskan semuanya disini, karena hanya disini aku mampu mengungkapkan gejolak jiwaku. Di kampus, tak ku temukan lagi ruang diskusi. Hilang. Padam. Hampa.

Ataukah memang kita siap untuk menjadi calon sarjana perusak kota ini.

Aaahh… biarlah tulisan yang tak terstuktur ini terukir di blog ini. Biarkan aku menulis untuk mengungkapkan kegelisahanku yang mungkin tak (akan) kalian rasakan.

baca juga : M’Tos, Si Centil di Kawasan Pendidikan

Rumah Sakit

September 19th, 2007

Rumah sakit, ada
momok yang menakutkan kala mendengar nama tempat ini. Bukan rahasia
lagi, aku sudah menjadi langganan tempat ini sejak kecil. Sejak
keluar dari rumah sakit pertengahan tahun 2004 lalu, aku sudah
meniatkan tidak akan di rawat di tempat ini lagi.

Tetapi…, malam itu
smua berbeda. Sakit yang menerpaku terus melilit. Sakit yang perih
dan tak tertahankan lagi. Jika saja saat itu aku diperhadapkan antara
menahan sakit atau mati, mungkin aku akan memilih mati saja. Sakit
perut itu betul-betul menggila, membuatku lemas tak berdaya. Jika
saja aku mati saat itu, maka smuanya akan tuntas seketika. Tetapi
Tuhan berkehendak lain. Aku harus dirawat di rumah sakit untuk
kesekian kalinya.

Ada rasa dongkol dalam
hati, namun secepatnya aku sadar untuk menerima ini dengan ikhlas.

Aku bahagia, di kala
penderitaan ini menggugat, begitu banyak cinta menyapa. Cinta kasih
dari kedua orang tuaku yang tak pernah lelah merawat, kakakku yang
kerap membagi cerita serunya, Ato yang bersedia menjadi media
informasi, kk dahe` yang harus direpotkan, teman-teman pwk, mapala09
yang mengantar ke rs, anak smudama, antek, k ashari dan k wiwin dgn semangatnya, anak blogger makassar,
para chatters mirc, komunitas panyingkul, benang kusut yang berwarna merah, hingga seorang bernama adi yang lebih senang dipanggil orang_utan, rela meluncur
dari soppeng hanya untuk menjenguk serta lainnya yang tak bisa
disebutkan satu persatu.

Kunjungan, doa, sms mereka mampu malawan
galau yang menghantui. Aku sungguh terharu…

Meski blm sehat betul, namun aku bersyukur sudah bisa kluar dari penjara rumah sakit yang membosankan itu dan berharap tidak akan di rawat di sana lagi. Amien

(Jangan) Biarkan Aku Sendiri

August 6th, 2007

Kemarin, aku ke kampus. Beberapa orang menegurku dan menanyakan mengapa aku
tak pernah menampakkan diri di kampus. Apakah betul, mereka menyadari
ketiadaanku?

Aku adalah individu impersonal yang hidup dalam massa kolektif. Hal ini
harus kuakui. Aku hidup seperti manusia yang terisolasi, terpisah dan terasing
dari orang lain. Kemalangan ini kusadari. Aku yakin, beberapa orang dalam
komunitasku, menganggap aku tak sungguh-sungguh hidup, aku tak betul-betul ada.
Aku Invisible. Tak ada satu pun yang mampu kuberikan kepada sebuah komunitas.

Eksistensi manusia memang tak mungkin pernah lepas dari kebersamaan. Eksistensi
manusia adalah sebuah kerelaan untuk menyatu dengan orang lain. Manusia tak
dapat di lihat dari kesendirian, melainkan justru karena keberadaannya berakar
pada kebersamaannya. Sekali lagi, aku menyadari ini. Tapi salahkah aku untuk
memilih menjalankan ini sendiri???

Aku tertawa sendiri. Aku tersenyum sendiri. Aku berbicara sendiri. Aku
menangis sendiri. Aku termenung sendiri. Gila. Sendiri.

Egois??? Individual??? Mungkin orang lain akan mengambil kesimpulan seperti
itu. Tapi bukan konteks itu yang membuatku melalui jalan ini, justru karena
rasa rendah diri seorang manusia biasa yang membuatku menjalaninya.

Apa yang orang lain ketahui tentang diriku? Apa yang orang lain rasakan
tentang proses hidupku hingga menjadi seperti ini? Tidak ada yang tau. Tak ada
yang mengerti. Konflik-konflik yang menjadi dinamika kehidupanku bukan bermuara
pada usaha hidup bersama tetapi hidup sendiri.

Betul, jika aku yang sengaja menyisakan tanda tanya besar tentang diriku
pada mereka, tapi haruskah mereka tahu?

Tubuhku bertindak seolah menjadi jembatan yang menghubungkan dunia
individualku yang bersifat batin dengan orang lain. Komunikasi yang aku bangun
mungkin tak selamanya melalui verbal, kata-kata yang di keluarkan lewat mulut
tetapi melalui alat yang diciptakan oleh kemampuan tubuhku bahkan anggukan dan
gelenganku adalah suatu bentuk alat komunikasi yang merupakan perpanjangan
tubuhku sendiri.

Jika aku tak mampu bersilat kata di hadapanmu, izinkan aku bergulat dengan
huruf dalam tulisanku. Jika kau tak mampu mengartikan kebungkamanku, cobalah
mencerna setiap bait kisahku…

(Jangan) Biarkan Aku Sendiri………….

Kenapa “Winnie”

July 24th, 2007

Banyak yang bertanya, knp pake nama winnie…??? sok manis… Bukan. Bukan bermaksud sok manis saya menggunakan nama ini.

Saya da pernah membuat nama dengan begitu saja, semua harus punya arti, begitu pula winnie. Winnie berasal dari Win-ar-nie. Dua suku kata ini terletak di luar namaku. Hal ini berarti, inilah yang orang lain liat dari sosok Winarni yang sesungguhnya.

Akhirnya… Tulisanku di-BUKUkan!!!

July 12th, 2007

Hari ini.. untuk pertama kalinya, tulisanku betul-betul di bukukan, di cetak dalam banyak eksamplar… Rasanya aku ingin berlari sekencang-kencangnya pulang ke rumah dan mengetiknya rasa haru, senang, bahagia itu di atas keyboard ini…
Sebelumnya, saya pernah membukukan novel kisah dikdasku satu eksamplar dan dibaca bergilirang oleh teman-temanku. karena buku itu satu-satunya dan dibaca estafet, entah di tangan siapa, buku itu tercecer entah di mana. hingga akhirnya beberapa minggu yg lalu Ai menghubungi saya dan menyatakan apresiasinya terhadap tulisanku. katanya, ia mendapatkan buku itu di laci himpunan.
Menerbitkan sebuah BUKU adalah impian seorang penulis, termasuk saya. saya ingin tulisanku berguna bagi orang lain, jadi inspirasi dan membuat orang lain ikut menulis.
Sejak peluncuran buku tadi…, semangatku makin menjadi-jadi, jariku terasa gatal dan ingin mengetik lagi meneruskan draft tulisan yang masih tersimpan di folder ku. saya ingin BUKU ku terbit lagi… hari ini besok dan seterusnya… AMIEN…!!!